Arsitektur Aplikasi: Kunci Utama Fondasi Aplikasi BRI

Pengembangan setiap aplikasi yang menjawab kebutuhan pengguna setia BRI selalu didahului dengan desain arsitektur yang kokoh.

Septian Herdananta

May 27, 2021 • 5 mins reading

Bayangkan Anda sedang mengunjungi rumah minimalis dua tingkat. Rumah itu sederhana, unik, serta enak dipandang dari luar. 

Setelah membuka pintu depan, Anda langsung disambut dengan ruang tamu yang menghadap sayap barat. Berjalan sedikit ke sisi utara, Anda menemukan satu kamar tidur tepat sebelum dapur yang terletak di bagian belakang rumah. Naik ke lantai dua, dua kamar tidur lain milik masing-masing anak saling berhadapan. 

Nah, sebelum membangun semua itu, rancangan berupa cetak biru (blueprint) rumah pastinya dibuat terlebih dahulu. Seluruh bagian rumah, bahan bangunan yang dibutuhkan, hingga anggaran konstruksi tercantum lengkap di dalam blueprint

Maka sama seperti rumah dan proyek bangunan lainnya, setiap aplikasi yang ada di smartphone Anda atau web yang diakses via web browser juga membutuhkan blueprint dalam perancangannya. Nah, blueprint dalam konteks aplikasi inilah yang disebut sebagai arsitektur aplikasi.

Mengenal arsitektur aplikasi

arsitek aplikasi BRI sedang merancang arsitektur aplikasi

Secara sederhana, arsitektur aplikasi adalah rancangan desain menyeluruh dari sebuah sistem aplikasi beserta infrastruktur pendukungnya untuk dapat melayani kebutuhan bisnis atau pendukung bisnis yang disematkan pada aplikasi tersebut. Arsitektur sebuah sistem aplikasi juga mendefinisikan komponen-komponen utama yang digunakan, interaksi antarkomponen, hingga interaksi dengan aplikasi lain dan third party (pihak eksternal yang bekerjasama dengan BRI) jika dibutuhkan.

Seperti yang telah disebutkan, dalam pengembangan aplikasi, arsitektur aplikasi berperan sebagai blueprint suatu sistem aplikasi. Blueprint ini menjadi landasan dalam pembuatan seluruh kebijakan desain aplikasi yang meliputi penetapan tujuan, penyusunan strategi, pemberian tugas, hingga implementasinya oleh setiap unit di lingkungan kerja.

Berkaitan dengan implementasinya di BRI, blueprint tersebut terangkum dalam satu dokumen requirement analysis & system design baik bisnis dan teknologi sehingga kebutuhan yang lebih detil bisa diidentifikasi agar perancangan desain arsitektur aplikasi dapat tepat guna. Perancangan dan pembuatan arsitektur aplikasi ini dikerjakan oleh tim eksekutor yang terdiri dari Business Analyst dan System Analyst sehingga hasilnya dapat dijalankan dengan baik oleh Tim DevOps BRI.

Pentingnya arsitektur aplikasi

perancangan arsitektur aplikasi BR

Dalam menjalankan aktivitas perancangan arsitektur aplikasi, diperlukan pedoman agar penerapannya terarah dan terstandardisasi. Pedoman tersebut terdiri dari pedoman utama dan pedoman penerapan, atau biasa disebut sebagai standardisasi

Perancangan arsitektur aplikasi menjadi bagian krusial dalam keseluruhan proses desain aplikasi. Ini karena salah satu tujuan utama arsitektur aplikasi adalah merancang kapasitas aplikasi dan infrastruktur pendukungnya agar skalabilitas dapat dilakukan dengan mudah sehingga menghasilkan performa yang baik untuk digunakan oleh pengguna.

Demi mewujudkan hal tersebut, BRI menggunakan HA (High Availability) dan Resilience. HA merupakan konsep rancangan aplikasi, database, dan infrastruktur pendukung seperti server, load balancer, dan sejenisnya yang dapat mengatasi kapasitas traffic penggunaan aplikasi pada satu lingkungan Data Center. Sedangkan Resilience merupakan konsep untuk menjalankan business continuity ketika Data Center tidak dapat berjalan dengan normal sehingga skenario backup ke Data Center lain dapat dilakukan. Data Center ini telah dipersiapkan sebelumnya serta memiliki komponen dan kapasitas yang identik.

Kami mengerti bahwa pengguna tidak nyaman dengan performa aplikasi yang buruk, sering down, atau pun tidak responsif. Maka dari itu, kami mempersiapkan pedoman yang menetapkan standar HA tertentu dalam setiap pengembangan aplikasi demi mengantisipasi kejadian-kejadian tersebut serta memastikan kepuasan pengguna untuk semua aplikasi BRI.  

Pedoman dan standardisasi arsitektur aplikasi di BRI

rancangan regulasi dan standardisasi arsitektur aplikasi BRI

Kami termasuk ke dalam Tim Arsitektur Aplikasi di IT Strategy & Governance Division yang berdiri di posisi Strategi Teknologi Informasi dan bertanggung jawab sebagai pengelola kebijakan sebagai pedoman utama dan standardisasi terkait arsitektur teknologi informasi di BRI.

Pedoman utama tersebut bernama bernama ITEA atau IT Enterprise Architecture. ITEA BRI dirilis mulai tahun 2018 dan menjadi acuan utama terkait target arsitektur teknologi informasi BRI yang meliputi arsitektur data, aplikasi, infrastruktur, dan keamanan.

Kami sebagai Tim Arsitektur Aplikasi juga mengelola pedoman turunan dari salah satu komponen ITEA, yaitu arsitektur aplikasi. Pedoman turunan tersebut merupakan dokumen standardisasi yang lebih spesifik dan terdiri dari:  

1. Application Architecture Standard, mengatur kaidah rancangan arsitektur sistem aplikasi dan cara berkomunikasi antar sistem aplikasi.

2. Application Development Technology Standard, mengatur teknologi aplikasi yang dapat digunakan di BRI seperti bahasa pemrograman, database, framework, operating system, dan sejenisnya.

3. Application Development Standard, mengatur kaidah pengembangan aplikasi seperti code convention, code documentation, response code, dan sejenisnya.

Pedoman utama dan turunan tersebut dapat dimanfaatkan oleh System Analyst di masing-masing Tim Application Development sebagai acuan dalam melakukan desain aplikasi. Selain itu, kami juga memberikan konsultasi untuk memudahkan pemahaman terhadap pedoman-pedoman tersebut serta melakukan monitoring terhadap penerapannya.

Dalam rangka menyesuaikan perkembangan bisnis, teknologi, dan mitigasi risiko, maka pedoman tersebut sangat bisa dilakukan revisi. Untuk ITEA, revisi tersebut dilakukan minimal 2 tahun sekali, sedangkan standardisasi minimal 1 tahun sekali. 

Aktivitas revisi ITEA beserta standardisasinya tentu harus berlandaskan referensi baik dari regulasi perbankan, pemerintah, profesional, maupun masukan-masukan dari seluruh tim IT BRI. Hal ini dilakukan demi memastikan bahwa semua jenis aplikasi BRI baik yang bersifat bisnis maupun pendukung bisnis dapat terakomodasi secara keseluruhan.

Manfaat penerapan pedoman arsitektur aplikasi

 arsitek aplikasi BRI sedang mengoptimalkan aplikasi BRIMo

Dengan mengimplementasikan arsitektur aplikasi beserta pedomannya dalam setiap perancangan desain aplikasi BRI, kami memperoleh manfaat yang signifikan di lingkungan kerja. Beberapa manfaat tersebut adalah: 

1. Jelas. Dengan adanya pedoman dan standardisasi arsitektur aplikasi, kami mempunyai acuan yang jelas sehingga perancangan desain aplikasi BRI dapat berjalan lebih cepat sekaligus tepat sasaran. 

 2. Rapi. Dengan membangun aplikasi berdasarkan arsitektur aplikasi yang kokoh, struktur aplikasi dan hubungan antar aplikasi menjadi lebih teratur dari sisi front-end, middleware, backend, dan API Gateway.

3. Aman. Arsitektur aplikasi BRI beserta pedoman dan standardisasinya memberikan keamanan terhadap data, aplikasi, dan infrastruktur IT BRI. 

4. Mudah. Aplikasi menjadi lebih mudah dibuat, diperbaiki, dan dipelajari untuk regenerasi developer selanjutnya. Selain itu, rancangan arsitektur aplikasi juga memberikan kemudahan dalam melakukan tracing (pencarian) terhadap root cause (akar permasalahan) saat terjadi masalah pada performa aplikasi sehingga troubleshooting (perbaikan) dapat dilakukan dengan mudah dan cepat. 

Menjadi Tim Strategi Arsitektur Aplikasi di BRI


arsitek aplikasi BRI mengatur susunan elemen aplikasi BRI


Untuk menjadi Tim Arsitektur Aplikasi di BRI, Anda membutuhkan kemampuan hard skill dan soft skill tertentu. Untuk hard skill, tentunya Anda telah mendalami coding/programming/database engineering. Anda juga harus memiliki kemampuan menulis dengan tata bahasa yang baik karena Anda akan sering mengerjakan paper/kajian. 

Untuk soft skill, pengalaman sebagai System Analyst dalam peranannya sebagai eksekutor perancangan desain aplikasi berdasarkan pedoman yang telah ditetapkan juga diperlukan. Pengalaman ini akan membentuk design thinking yang matang dan kemampuan analisis mendalam, karena Arsitek Aplikasi harus dapat melihat suatu permasalahan dari berbagai sudut pandang.

Soft skill lain yang dibutuhkan Tim Arsitektur Aplikasi di BRI adalah kemampuan berkomunikasi yang baik dan terstruktur. Kemampuan tersebut dibutuhkan karena di sini kami juga bertindak sebagai konsultan yang banyak memberikan saran dan rekomendasi terkait penerapan pedoman-pedoman arsitektur.

Selain itu, Anda harus memiliki pemikiran yang terbuka (open mind) yang dibutuhkan jika ada pihak-pihak yang memberikan saran dan kritik terhadap standar yang telah ditetapkan. Anda harus dapat mencari tahu latar belakang masalah serta tujuan dari usulan tersebut dan menganalisis keunggulan dan kelemahannya untuk mencari solusi. Caranya adalah dengan mengklarifikasi tafsir penerapan standar dan/atau dapat mengakomodirnya menjadi bahan riset untuk review perbaikan pedoman selanjutnya. 

Oleh karena itu, kemampuan-kemampuan hard skill dan soft skill tersebut akan membantu Anda untuk menjadi seorang Arsitek Aplikasi yang tidak hanya handal dari sisi teknis saja, tetapi juga mampu memberikan solusi yang tepat guna.


Septian Herdananta
Team Leader - Application Architecture
IT Strategy & Governance Division