Antisipasi Kejahatan Perbankan dengan Kartu Chip BRI

Dalam rangka mengurangi risiko terjadinya skimming dan aksi kejahatan perbankan lain, kartu chip BRI hadir dengan berbagai fitur keamanan terdepan.

Hendra Dwi Kusuma

April 29, 2021 • 4 mins reading

Saat ini, tindak kejahatan peretasan kartu ATM semakin marak terjadi, dan mungkin Anda juga pernah mengalaminya. Secara misterius, uang di rekening Anda hilang begitu saja. Lalu ketika Anda melihat riwayat transaksi, tercantum riwayat penarikan tunai beruntun yang sebenarnya tidak pernah Anda lakukan.  

Jika Anda pernah mengalami kejadian di atas, maka Anda menjadi korban tindak kejahatan perbankan skimming. Skimming atau sering disebut juga sebagai pembobolan rekening bank adalah tindakan pencurian data kartu kredit atau debit melalui penyalinan informasi yang terdapat pada magnetic stripe kartu kredit atau debit secara ilegal. Aksi kriminal ini terjadi khususnya pada nasabah BRI yang masih menggunakan kartu ATM berbasis magnetic stripe. Oleh karena itu, pemerintah mengeluarkan aturan yang mewajibkan masyarakat untuk segera mengganti kartu magnetic stripe. Maka, BRI turut mengajak seluruh nasabah kami untuk migrasi ke kartu BRI berbasis chip

Namun sebenarnya, apa yang membedakan kartu chip dari kartu magnetic stripe sehingga begitu penting bagi nasabah BRI untuk melakukan migrasi kartu?

Perbedaan kartu magnetic stripe dan chip

dua nasabah BRI sedang melihat kartu chip BRI dari dekat

Secara fisik, kartu ATM magnetic stripe dan chip memiliki perbedaan yang cukup jelas. Jika Anda melihat bagian belakang kartu ATM berbasis magnetic stripe, maka ada pita hitam memanjang di sisi kirinya. Itulah yang disebut sebagai magnetic stripe atau strip magnetik. Sementara pada kartu berbasis chip, Anda akan menemukan chip kuning di bagian depan kartu ATM BRI.

Sedangkan secara fungsi penyimpanan data, kartu ATM magnetic stripe hanya dapat menyimpan data-data seperti nomor kartu, tanggal kedaluwarsa kartu, service code, dan nomor CVV. Sementara pada kartu ATM berbasis chip, data yang bisa disimpan lebih banyak karena memiliki CPU, memori, sistem operasi, aplikasi, dan fungsi kriptografi.

Dengan teknologi tersebut, data yang tersimpan pada chip tidak dapat digandakan. Berbeda dengan kartu magnetic stripe yang datanya mudah digandakan, teknologi kartu chip memiliki logic tertentu yang membuatnya sulit untuk dibobol.

Selain dari aspek keamanan, kartu chip juga dapat menyimpan applet atau aplikasi/produk perbankan lebih dari satu, tidak seperti kartu magnetic stripe yang hanya dapat menyimpan satu applet saja. 

Adaptasi teknologi keamanan BRI terhadap penggunaan kartu chip BRI

seorang wanita nasabah BRI memanfaatkan teknologi keamanan kartu chip BRI

Dalam proses penerbitan kartu chip, kami menggunakan sebuah sistem yang dinamakan perso system atau sistem perso. Secara sederhana, sistem perso adalah proses penginjeksian data ke kartu chip. Sistem ini sangat bermanfaat terutama dalam melakukan personalisasi data chip yang akan ditulis ke kartu, termasuk risiko yang diperlukan. Proses penginjeksian data sangat kami jaga agar tidak ada kebocoran dalam prosesnya. Apabila ada kebocoran data, maka potensi pengkloningan kartu dapat terjadi. Oleh karena itu, dalam melaksanakan sistem perso, BRI bekerja sama dengan pihak ketiga demi memperketat proses kontrol. 

Selain itu, jika proses autentikasi pada kartu magnetic stripe hanya melalui PIN nasabah saja, maka pada kartu chip, prosesnya jauh lebih kompleks. Pada setiap permintaan transaksi, kartu ATM berbasis chip akan mengeluarkan ARQC atau Authorisation Request Cryptogram. Proses validasi cryptogram inilah yang membuat keamanan kartu chip semakin terjamin. Buktinya, sampai saat ini, kartu chip tidak bisa diduplikasi berkat proses autentikasi ini.

Demi menjamin keamanan transaksi nasabah BRI, kami juga menerapkan sistem BRIFORCE, yaitu sebuah fraud detection system atau sistem deteksi penipuan berbasis behavior scoring. BRIFORCE membangun profil dari masing-masing nasabah BRI dengan mempelajari pola transaksi tarik tunai yang sering dilakukan. Jika tergolong bahaya, maka sistem akan menonaktifkan kartu tersebut secara otomatis. 

Hingga saat ini, kartu ATM BRI yang dirilis merupakan kombinasi antara chip dan magnetic stripe. Jadi, meskipun sudah ada chip, magnetic stripe tetap tersemat di bagian belakang kartu.

Potensi kejahatan yang dapat diminimalisasi berkat penggunaan kartu chip BRI 

seorang nasabah BRI memegang kunci pengaman aplikasi BRI

Walaupun Anda telah melakukan migrasi dari kartu magnetic stripe ke kartu berbasis chip, Anda harus tetap mewaspadai potensi kejahatan perbankan. Ini karena semakin canggih teknologi keamanan yang digunakan, maka teknologi untuk membobolnya juga akan berkembang. Skimming menjadi tindak kejahatan yang paling patut diwaspadai. 

Secara teknis, pelaku memasang berbagai alat seperti card trapping dan kamera di mesin ATM. Ketika pelaku skimming berhasil memperoleh akses ke rekening korban, maka mereka dapat dengan mudah melakukan penarikan di manapun komplotan mereka berada. Maka melalui chip yang terpasang di kartu, pihak BRI bisa mendeteksi lokasi dan waktu terjadinya skimming, mulai dari awal transaksi ilegal hingga penarikan tunai oleh pelaku.

Di samping itu, apabila chip di kartu ATM tidak bisa dibaca akibat chip-nya rusak atau tidak ada (hasil kartu skimming), maka transaksi akan dilanjutkan ke prosedur fallback. Transaksi fallback adalah transaksi menggunakan magnetic stripe apabila transaksi dari chip gagal. Mengikuti regulasi Bank Indonesia, BRI telah melarang prosedur fallback ini demi mengurangi risiko terjadinya kasus penipuan dan pembobolan rekening, dengan cara melakukan penolakan transaksi fallback untuk kartu ATM BRI di terminal ATM BRI maupun ATM Bank lain.

Dalam melakukan mitigasi transaksi fallback, kami banyak melakukan simulasi dengan berbagai kemungkinan aksi kriminal. Kami membuat serangkaian uji coba yang bertujuan untuk memanipulasi kartu chip. Dari sekian banyak uji coba yang kami lakukan, kami hanya mendapat satu hasil: kartu chip tidak dapat dipalsukan. Selain itu, transaksi fallback juga berhasil ditolak. 

Untuk kartu ber-chip, transaksi yang diterima oleh BRI hanya transaksi chip, yaitu transaksi dengan kartu chip di terminal chip. Sementara saat ini, pelaku skimming hanya bisa melakukan transaksi magnetic stripe saja. Oleh karena itu, bertransaksi menggunakan kartu chip BRI dapat dipastikan sudah aman.

Langkah preventif agar terhindar dari tindak kejahatan di ATM

Dengan fitur keamanan yang telah disempurnakan, kartu chip memang terbukti dapat menghindarkan Anda dari berbagai potensi kejahatan perbankan. Walaupun begitu, sebagai nasabah BRI, Anda juga tetap harus melakukan langkah-langkah preventif yang dapat mengurangi risiko kejahatan pembobolan rekening, khususnya ketika melakukan transaksi di ATM. Langkah-langkah tersebut yakni sebagai berikut:

  1. Jangan pernah memberikan informasi penting seperti nomor PIN, nomor CVV, identitas diri, dan informasi penting lainnya kepada orang yang tidak Anda kenal ketika sedang melakukan transaksi di ATM.
  2. Jangan mudah percaya dengan orang yang tiba-tiba datang untuk membantu Anda di ATM. Apabila di ATM tersebut sudah dipasang card trap sehingga kartu Anda tertelan, pelaku akan berpura-pura membantu Anda. Padahal, kartu Anda akan diduplikasi olehnya.
  3. Pastikan keseluruhan fisik ATM aman untuk digunakan. Periksa bagian-bagian penting seperti PIN Pad ataupun lubang masuk kartu. Jika Anda menemukan logam atau lempengan ganjil, jangan bertransaksi di ATM tersebut. 
  4. Ganti kode PIN Anda secara berkala
  5. Aktifkan selalu fitur notifikasi bank agar Anda mengetahui adanya transaksi setor, tarik, maupun transfer dana.
  6. Apabila mengalami kendala saat melakukan transaksi di ATM seperti kartu tertelan atau mutasi saldo mencurigakan, segera nonaktifkan kartu BRI Anda melalui aplikasi BRImo.


Hendra Dwi Kusuma
Assistant Manager
Divisi Application Management & Operation (APP)
Bagian Distribution Channel Platform Development Function (DCP)